Ikut program DMMD (Da’i Masuk Membangun Desa) 2008 di Karanganyar..Sebenarnya bukan kali pertama saya ‘kesana’. Tapi kali ini ada nuansa berbeda yang saya rasakan. Indahnya ukhuwah..Nikmatnya perjuangan..Kebesaran Allah yang terasa sangat dekat..Nikmat Allah yang tak henti-hentinya..Rizki Allah dari arah yang tak terduga, Allaahu Akbar..Kata-kata itu mungkin tak cukup representative untuk menggambarkan berharganya sepotong perjalanan di akhir tahun 1429 H kali ini..Walau terkadang beratnya keikhlasan terasa menggelayuti, keringnya ruhiyah ikut membebani, penyakit hati juga berperan mengotori keindahan sepotong perjalanan di akhir tahun itu. Itulah gambaran sepotong episode di akhir tahun saya. Karena dia adalah proses, bukan produk. Maka, evaluasi terhadap proses untuk tujuan perbaikan berkesinambungan itu dalam istilah Quality Management disebut Continuous Improvement (CI). Dan menurut saya, Continuous Improvement itu juga penting diterapkan dalam hidup.
INDAHNYA UKHUWAH, saat hati –hati ini terkumpul dalam satu tujuan, demi tegaknya syariat Islam. Saling bahu membahu, tolong menolong. Karena dalam ukhuwah ada tanggungjawab yang harus dipikul, yang boleh jadi lebih tinggi dari persaudaraan karena darah (Ustadz Solihun, kelas Hadist Arba’in ke-13, 20 Okt’08)
NIKMATNYA PERJUANGAN, ketika masalah yang dihadapi, dilalui dengan ketabahan. Sehingga, sesulit apapun medan perangnya, maju terus pantang mundur. Prinsipnya hidup dalam kemuliaan atau mati syahid.
KEBESARAN ALLAH terasa sangat dekat ketika berada di alam yang luas terhampar. Betapa kecilnya diri ini di tengah luasnya sawah yang tersusun indah, di bawah langit yang luasnya tak terbatas. Betapa terasa keagungan Allah, saat diri ini berada di bawah gunung yang kokoh dan tinggi menjulang, di tengah-tengah kebun karet yang senantiasa berdzikir mengagungkan asma Allah..Allahu akbar..
NIKMAT ALLAH YANG TIADA HENTI, terasa saat pertolongan demi pertolongan senantiasa Allah kirimkan. Di saat terjebak pada jalan buntu,tiba-tiba ada yang membukakan pintu dan menarik keluar. Terasa terus menerus..tiada pernah Allah berhenti menolong hamba-Nya.. Allah Kariim..Lalu mengapa hati ini terkadang sulit untuk mensyukuri nikmat-Mu, ya Allah..
RIZKI ALLAH DARI ARAH TAK TERDUGA..Tak akan terlupa dan tak kan sanggup dihitung nilainya. Sering sekali ghonimah dari warga menyertai perjalanan kami pulang ke rumah. Ghonimah yang nyata seperti Rambutan, durian, wedang anget. Hingga ghonimah abstrak, seperti pengalaman baru, ilmu baru, wawasan baru, bahkan kenalan baru. wa yarzuq hu min haitsu laa yahtasib..
Namun, BERATNYA KEIKHLASAN terkadang membebani. Terasa saat apa yang sudah dilakukan terasa bermanfaat bagi orang banyak. Kemudian hati menjadi sombong, merasa diri paling benar dan hebat, muncul benih-benih riya’ dan ‘ujub. Saat itulah terasa ada satu noda hitam melekat dalam hati ini. Astaghfirullah. Meskipun tahu, bahwa ikhlas itu tidak hanya di awal, namun di tengah, di akhir, bahkan pasca beramal. Meskipun pernah mendapat ilmunya, meskipun pernah menyampaikan kepada teman tentang hal serupa, namun mempraktikannya sungguh terasa berat. La haula wa laa quwwata illa billah.
KERINGNYA RUHIYAH ikut menggelayuti. Dia muncul karena lemahnya hati dalam melawan bisikan syetan. Melawan syetan yang senantiasa tidak pernah rela melihat anak Adam menaati perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasul. Lemah untuk melawan nafsu agar tidak menuruti keinginan liar jiwa yang tidak sesuai syaratNya. Kalah dalam mengendalikan hati untuk senantiasa istiqomah dan teguh (tsabat) dalam keimanan dan ketaqwaan. Tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak keimanan.
PENYAKIT HATI, ikut mengotori. Ustadz mengajarkan bahwa semua penyakit hati berasal dari SU’UDHONN. Dari penyakit ini akan muncul hasud, yang kemudian berpotensi memunculkan dendam. Lalu muncul penyakit ‘namimah’ atau penyebar fitnah, mengadu domba satu dengan yang lain. Dari sanalah muncul penyakit ghibah. Maka, su’udhonn adalah dosa besar, seperti dsebutkan dalam Al-Hujurot ayat 11. Berhati-hatilah karena setiap hari dosa itu dating menghampiri kita. Karna jika satu kali melakukan dosa, akan sulit untuk meninggalkan dosa tersebut dan akan berpotensi melakukan dosa-dosa yang lebih besar. Maka, perbanyaklah berdoa memohon perlinungan dari Allah (Ustadz Solihun, kelas Siroh Nabawiyah, 28 Nov 2008).
1 Muharram 1430 H, pukul 01.27 am.
Benar juga kata sodari saya, “Tinggal di Yogya itu, 24 jam sehari sering kurang”. Tapi, ah, masak, sih..